Sabtu, 24 November 2012

24 Nopember 2012

-->

Hai kamu yang disana yang entah merindukan aku atau tidak, hari ini hujannya begitu deras  yah? apakah disana juga, semoga iya. Karena aku ingin menunjukan sebagian kesakitan yang aku simpan selama ini, hujan ini seolah menumpahkan sebagian kesakitanku ketika ku merindumu, Apa kamu bisa mengerti sekarang? Atau sebenarnya kamu telah mengerti sejak lama? hanya saja kamu berpura-pura untuk tak mengerti kesakitanku. Kamu pandai bersandiwara, kamu pandai menutup semua kesedihanku dengan rapi... Ketiadaan wujudmu yang sering menggangguku ini membuat hati seolah tak begitu tenang setiap waktunya. Untuk berharap kamu memberi kejutan itu sudah tak mungkin lagi bukan? Tapi setidaknya aku mendapatkan satu kata kepastian dan itu sudah lebih dari cukup untuk menutupi luka-luka ini.... Bukankah semalam kamu baru saja berucap " Meskipun aku tak ada di sampingmu, tapi sesungguhnya aku merindukanmu... Bukannya aku tak ingin bertemu, tapi keadaannya memang belum memungkinkan untuk itu, satu hal yang harus kamu tau, ketika kita saling bertemu aku selalu sulit untuk menggerakan kakiku dari tempatmu, aku juga merasakan selalu ingin bersamamu, aku tak ingin ada jarak antara kita, tapi aku selalu sadar bahwa aku ingin membawamu ke masa depan yang lebih baik dan bukan seperti ini, aku ingin menjadikanmu seseorang yang paling bahagia ketika nanti kita hidup bersama, dan saat ini aku sedang berusaha untuk itu, aku sedang takmain-main dengan masa depan kita. AKU SAYANG KAMU". Rasanya sejauh kita melangkah, itu adalah kata-kata terbaik yang pernah kamu ucapkan. Aku tersenyum bahagia mendengar itu. Dan setelah itu kamu bertanya berapa lama kita tak bertemu dan aku menjawab satu abad, kamu tertawa dengan polosnya terdengar di telingaku, lalu kamu menanyakannya sekali lagi padaku dan aku menjawab itu sudah tiga minggu saat kita bertemu terakhir kali. Yah itu benar Tiga minggu yang dilalui terasa satu abad yang harus aku lewati jika itu tanpa kamu. Rasanya kalimat itu terdengar begitu alay seperti anak SMA yang baru merasakan indahnya cinta. Tapi percayalah itu yang sejujurnya aku rasakan, karena aku tak selalu peduli dengan komentar orang lain. Kadang cinta itu memang childist, tapi itulah cinta. Tak selalu memandang usia, tak selalu memakai logika :). Jika cinta bisa membuatku bertahan seperti ini, aku sungguh yakin bahwa kamu memang pantas untuk aku pertahankan. Dan inilah diriku dengan semua hal yang aku lakukan sekarang hanya semata-mata untuk mempertahankan apa yang pantas aku pertahankan. Mungkin ini adalah saat dimana aku belajar untuk bisa menunjukan bahwa aku memang patut menjadi seseorang yang pantas mendampingi masa depanmu nanti. Bukankah sedikit ketidaknyaman di awal ini akan mengurangi banyak rasa sakit kedepannya J.